Close Menu
aiera.idaiera.id
  • Beranda
  • Berita
  • Politik
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Lifestyle

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Buku: Inspirasi 72 Games

Gempa Magnitudo 4,9 Guncang Bekasi, Terasa hingga Purwakarta

Soal Status Kampung Sidrap, Agusriansyah Tekankan Netralitas Pemprov Kaltim

Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
aiera.idaiera.id
Subscribe Now
aiera.idaiera.id
You are at:Home » AI dan Ilusi Kecerdasan Palsu
Opini

AI dan Ilusi Kecerdasan Palsu

Di balik kepintaran mesin, ada kebodohan kolektif yang dibiarkan tumbuh oleh manusia modern.
Ira Nur AjijahBy Ira Nur Ajijah22 Maret 2025012 Mins Read
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Artificial Intelligence
Ilustrasi Artificial Intelligence (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Teknologi kian mempesona dalam membentuk wajah dunia baru. Namun, kemasan indah Artificial Intelligence (AI) justru menyimpan ironi: kita menyembah kecerdasan yang kita ciptakan sendiri, tapi perlahan kehilangan kendali atasnya. Fenomena ini tidak hanya menyentuh aspek teknologis, tapi juga mengguncang tatanan sosial dan budaya manusia modern.

Konsep Interactive Machine Learning (IML) memperlihatkan AI bukanlah entitas netral. Manusia berperan aktif dalam melatihnya, namun dalam proses itu pula peran manusia tergerus.

Kita dijadikan penyedia data, korektor pasif, bahkan objek eksperimen algoritma. Sistem ini bukan relasi simbiosis, melainkan bentuk eksploitasi baru—kapitalisme atensi yang tersamar.

AI tidak benar-benar “cerdas.” Ia hanya meniru. Yang mengkhawatirkan adalah saat manusia mulai tunduk pada hasil imitasi ini. Prediksi mesin dijadikan kebenaran mutlak, dan manusia berhenti bertanya. Secara epistemologis, ini adalah kekalahan nalar di hadapan mekanisme otomatis yang tidak memberi ruang pada makna.

Dalam kapitalisme klasik, buruh dieksploitasi untuk produksi fisik. Kini, dalam era digital, perhatian dan klik menjadi komoditas. Yang bekerja adalah kita, namun yang mendapat keuntungan adalah pemilik data dan pengelola sistem. Mesin hanya media, tapi kita dibujuk untuk percaya bahwa ia adalah guru kita.

Masalah ini bukan hanya soal kecanggihan teknologi. Ini tentang relasi kuasa. Ketika sistem AI menilai kita, memberi rekomendasi, bahkan mengatur rutinitas harian, maka kita telah menyerahkan otonomi manusia kepada logika teknokratis. Padahal, logika ini tidak lahir dari nilai, tapi dari perhitungan efisiensi dan pola yang tidak mempertimbangkan moral.

Bahaya terbesarnya bukan pada kemampuan AI, tapi pada kepasrahan manusia. Saat kita berhenti kritis, ketika manusia tak lagi menjadi subjek dalam proses berpikir, maka AI menjadi tiran diam-diam. Ia tidak menindas dengan senjata, tapi dengan kenyamanan dan kecepatan.

Solusinya bukan menolak teknologi, tapi membangun kesadaran kritis. Pendidikan digital harus mengajarkan bukan hanya cara menggunakan AI, tapi juga memahami struktur kekuasaan di baliknya. Regulasi yang mengatur etika dan transparansi sistem algoritma perlu ditegakkan, agar manusia tetap memiliki posisi sebagai pengambil keputusan utama.

Demokratisasi teknologi penting untuk mencegah monopoli data. Masyarakat harus diberi akses dan pemahaman atas bagaimana sistem bekerja. Platform harus bertanggung jawab atas dampak sosialnya. Kedaulatan digital tak boleh jatuh ke tangan korporasi semata.

AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan penguasa.

Artificial Intelligence Kapitalisme Digital Kecerdasan Buatan Teknologi
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticlePeran AI dalam Mengungkap Kebenaran Ilmiah Al-Qur’an
Next Article Google Tambahkan Fitur AI Baru di Gmail untuk Pencarian Cerdas

Related Posts

Google Tambahkan Fitur AI Baru di Gmail untuk Pencarian Cerdas

23 Maret 2025

AI dan Masa Depan Dunia Kerja: Ancaman atau Peluang?

16 Maret 2025

Penggunaan AI di Indonesia Melonjak, Pekerja Semakin Terbantu

15 Maret 2025
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Agusriansyah: Pendidikan Berkualitas Kunci Menuju Indonesia Emas 2045

8 Januari 2025156 Views

Subandi: 357 Samarinda Bukti Ketangguhan Masyarakat

22 Januari 202519 Views

Fraksi PKS DPRD Kaltim Bagikan THR dan Parcel Lebaran

28 Maret 202516 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Latest Reviews

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
© 2026 | AIera.id by Dexpert, Inc.
PT Arti Intel Era
  • About Us
  • Katalog
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.