Tangsel – Dalam deru disrupsi digital dan derasnya arus informasi, London School of Public Relations (LSPR) memilih jalur sunyi: mencetak jurnalis muda yang tak sekadar menulis, tetapi juga mampu menjaga demokrasi. Komitmen ini ditegaskan lewat partisipasi aktif LSPR dalam Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar Dewan Pers di Hotel Santika Premiere Bintaro, Tangerang Selatan, Jumat–Sabtu (23–24/5/2025).
Sebanyak 36 peserta dari berbagai lembaga media dan pendidikan, termasuk 12 jurnalis muda dari LSPR, mengikuti UKW tersebut. Selain LSPR, peserta juga berasal dari Kantor Berita Antara serta TV One dan ANTV. Mereka diuji dalam berbagai aspek seperti wawancara, penulisan berita, analisis isu, dan pemahaman mendalam terhadap Kode Etik Jurnalistik.
“Kami percaya bahwa kompetensi bukan sekadar capaian akademik, tapi kemampuan berpikir kritis, tanggung jawab sosial, dan keberanian bersuara untuk publik,” ujar perwakilan LSPR yang mendampingi peserta, menegaskan filosofi pendidikan komunikasi yang diusung lembaganya.
Teguh Poerdisastra, penguji utama dalam UKW ini, memberikan pesan kuat bagi para peserta.
“Tunjukkan kompetensi Anda, profesionalisme Anda, dan jadilah wartawan yang berguna bagi masyarakat. Jangan hanya hadir, tapi buktikan layak disebut jurnalis,” tegasnya.
Sementara itu, Rendro Dhani sebagai penguji kedua menekankan pentingnya wartawan kompeten sebagai penjaga demokrasi.
“Beritanya enak dibaca, mencerahkan. Tetaplah menjadi pilar demokrasi. Kalau bukan wartawan, siapa lagi yang memonitor pemerintah?” ucapnya.
Tak ketinggalan, Dody Hidayat sebagai asisten penguji menyampaikan bahwa UKW bukan sekadar ujian administratif.
“Profesi ini garda terdepan, pilar keempat demokrasi. Jaga integritas,” pesannya kepada para peserta.
Dalam ujian tersebut, peserta dari LSPR tampil mencolok dengan kemampuan analisis isu, struktur penulisan yang solid, serta penguasaan teknologi jurnalistik digital. Hal ini mencerminkan keberhasilan pendekatan pembelajaran berbasis praktik dan etika yang diterapkan kampus tersebut.
UKW ini menjadi bukti nyata bahwa integrasi antara teori akademik dan realitas lapangan dapat melahirkan jurnalis muda yang bukan hanya fasih memberitakan fakta, tetapi juga mampu memberi konteks dan makna yang dibutuhkan publik.
Dengan komitmen seperti ini, LSPR tak hanya mencetak wartawan profesional, tetapi juga menyiapkan generasi muda untuk menjadi penjaga integritas informasi dan demokrasi Indonesia.

