Empat titik penyeberangan tersebut terletak di depan Kantor Balai Kota yang menghubungkan Balai Kota dan Kantor DPRD, di depan gedung parkir yang menghubungkan Pasar Klandasan dan gedung parkir, di depan Mako Polresta Balikpapan, dan di kawasan Terminal Damai.
“Di depan Mako Polresta Balikpapan, alat ini sangat berguna bagi mereka yang biasa mengurus SIM. Karena pemeriksaan kesehatan dilakukan di kawasan Ruko Bandar yang berada di seberang Mako Polresta,” jelas Edo sapaan akrabnya.
“Satu titik lagi di kawasan Terminal Damai yang kerap ramai dengan pejalan kaki yang menyeberang jalan,” tambahnya.
Edo menjelaskan, alat bantu penyeberangan ini dirancang untuk memudahkan pejalan kaki, termasuk difabel, menyeberang jalan dengan aman. Pengguna hanya perlu menekan tombol pada tiang yang tersedia di dekat zebra cross.
“Nanti dari pengeras suara akan keluar suara seperti bel, kemudian lampu akan berwarna merah selama 10 detik,” terangnya.
Alat bantu penyeberangan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran pengendara untuk lebih tertib. Terutama dalam berhenti untuk pejalan kaki yang hendak menyeberang.
“Jalan-jalan di Balikpapan hampir rata-rata memiliki median jalan. Untuk penyeberangan, median jalan itu wadah untuk disabilitas,” ungkap Edo.
Ke depan, Dishub Balikpapan menargetkan pemasangan alat bantu penyeberangan di daerah rawan kecelakaan seperti Kebun Sayur, Karang Jati, dan daerah lainnya.
“Kita lihat anggaran tahun depan dulu. Saya ingin di beberapa sekolah prioritaskan untuk diberi alat bantu. Sekaligus mendukung zona penyeberangan di sekolah. Untuk pemasangan alat bantu penyeberangan ini, Pemkot Balikpapan telah menggelontorkan anggaran Rp1,2 miliar,” ujar Edo.

