Close Menu
aiera.idaiera.id
  • Beranda
  • Berita
  • Politik
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Lifestyle

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Buku: Inspirasi 72 Games

Gempa Magnitudo 4,9 Guncang Bekasi, Terasa hingga Purwakarta

Soal Status Kampung Sidrap, Agusriansyah Tekankan Netralitas Pemprov Kaltim

Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
aiera.idaiera.id
Subscribe Now
aiera.idaiera.id
You are at:Home » AI dan Masa Depan Dunia Kerja: Ancaman atau Peluang?
Editorial

AI dan Masa Depan Dunia Kerja: Ancaman atau Peluang?

Kecerdasan buatan semakin mengubah lanskap pekerjaan manusia, menimbulkan dilema antara efisiensi dan hilangnya peran manusia dalam dunia kerja.
Ira Nur AjijahBy Ira Nur Ajijah16 Maret 2025013 Mins Read
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
AI di Dunia Kerja
Ilustrasi Artificial Intelegence (AI) (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) terus mengguncang dunia kerja. Dari kendaraan otonom yang menggeser peran sopir hingga algoritma medis yang mulai menggantikan dokter dalam diagnosis penyakit, AI menciptakan perubahan mendasar dalam cara manusia bekerja.

Namun, apakah AI sekadar alat yang membantu manusia, atau justru ancaman yang akan menghilangkan peran mereka secara permanen?

Dalam beberapa kasus, AI menggantikan pekerjaan manusia secara langsung dan cepat. Contohnya, kehadiran mobil otonom yang mampu mengurangi kecelakaan fatal hingga sepertiga berdasarkan data Journal of Safety Research (2020).

Perkembangan ini membuat banyak pengemudi kendaraan pribadi kehilangan pekerjaan, meskipun sebagian masih bisa beradaptasi dengan pindah ke sektor lain, seperti pengemudi kendaraan berat atau alat berat.

Perubahan serupa juga terjadi di industri kreatif. Pada 2023, sekitar 11.500 anggota Writers Guild of America (WGA) menggelar pemogokan sebagai bentuk protes terhadap penggunaan AI dalam pembuatan skenario film dan televisi.

Para penulis menolak skenario yang dihasilkan AI, meskipun beberapa akhirnya beradaptasi dengan menulis dalam bentuk lain, seperti buku atau materi pendidikan.

Namun, tidak semua perubahan terjadi secara langsung. Di sektor medis, AI mulai menggantikan peran dokter dalam mendiagnosis penyakit secara bertahap.

Menurut studi yang dilakukan oleh Saeed Alizadeh, Ghazal Vakilzadeh, dan Fazel Moghadas Hosseinzadeh (2024), AI menawarkan tingkat akurasi yang lebih tinggi dibandingkan diagnosis manusia, berkat kemampuannya dalam mengolah data dalam jumlah besar. Dalam skenario ini, dokter masih memiliki peran, tetapi semakin terbatas pada pengambilan keputusan berdasarkan rekomendasi AI.

“AI memang meningkatkan efisiensi, tetapi kita harus mempertimbangkan dampaknya pada profesi tertentu. Jika AI mengambil alih sebagian besar pekerjaan manusia, kita harus mencari solusi agar masyarakat tetap memiliki peran dalam dunia kerja,” kata Dr. Rina Santoso, seorang pakar teknologi dari Universitas Indonesia.

Relasi antara manusia dan pekerjaannya tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga identitas dan eksistensi. Seperti yang dijelaskan oleh James Suzman dalam bukunya Work: A History of How We Spend Our Time (2020), pekerjaan memberikan makna dan status sosial bagi manusia. Kehilangan pekerjaan akibat AI bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga psikologis dan sosial.

Dilema ini semakin kompleks dengan munculnya pekerjaan berbasis AI dan internet. Model kerja jarak jauh serta kolaborasi global menjadi tren baru, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa AI pada akhirnya akan mengambil alih sebagian besar tugas manusia. Fenomena ini menimbulkan kecemasan eksistensial: jika AI menggantikan manusia, apa yang tersisa bagi mereka?

Meskipun Karl Marx pernah mengkritik kapitalisme karena mengalienasi manusia dari pekerjaannya, kenyataannya pekerjaan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Bahkan dalam pekerjaan yang dianggap tidak bermakna (bullshit jobs), manusia tetap menemukan identitas dan tujuan. Dengan AI yang semakin dominan, tantangan terbesar di masa depan bukan hanya menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga memastikan bahwa manusia tetap memiliki peran yang bermakna dalam dunia yang semakin didominasi oleh mesin.

AI Dunia Kerja Kecerdasan Buatan Transformasi Digital
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleManfaat Air Kelapa untuk Berbuka Puasa, Cegah Dehidrasi
Next Article Meta Perkuat Integrasi AI di WhatsApp, Ini Dampaknya

Related Posts

Google Tambahkan Fitur AI Baru di Gmail untuk Pencarian Cerdas

23 Maret 2025

AI dan Ilusi Kecerdasan Palsu

22 Maret 2025

Gibran Ajak Pelajar Manfaatkan AI untuk Hal Positif

19 Maret 2025
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Agusriansyah: Pendidikan Berkualitas Kunci Menuju Indonesia Emas 2045

8 Januari 2025156 Views

Subandi: 357 Samarinda Bukti Ketangguhan Masyarakat

22 Januari 202519 Views

Fraksi PKS DPRD Kaltim Bagikan THR dan Parcel Lebaran

28 Maret 202516 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Latest Reviews

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
© 2026 | AIera.id by Dexpert, Inc.
PT Arti Intel Era
  • About Us
  • Katalog
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.