Teknologi kian mempesona dalam membentuk wajah dunia baru. Namun, kemasan indah Artificial Intelligence (AI) justru menyimpan ironi: kita menyembah kecerdasan yang kita ciptakan sendiri, tapi perlahan kehilangan kendali atasnya. Fenomena ini tidak hanya menyentuh aspek teknologis, tapi juga mengguncang tatanan sosial dan budaya manusia modern.
Konsep Interactive Machine Learning (IML) memperlihatkan AI bukanlah entitas netral. Manusia berperan aktif dalam melatihnya, namun dalam proses itu pula peran manusia tergerus.
Kita dijadikan penyedia data, korektor pasif, bahkan objek eksperimen algoritma. Sistem ini bukan relasi simbiosis, melainkan bentuk eksploitasi baru—kapitalisme atensi yang tersamar.
AI tidak benar-benar “cerdas.” Ia hanya meniru. Yang mengkhawatirkan adalah saat manusia mulai tunduk pada hasil imitasi ini. Prediksi mesin dijadikan kebenaran mutlak, dan manusia berhenti bertanya. Secara epistemologis, ini adalah kekalahan nalar di hadapan mekanisme otomatis yang tidak memberi ruang pada makna.
Dalam kapitalisme klasik, buruh dieksploitasi untuk produksi fisik. Kini, dalam era digital, perhatian dan klik menjadi komoditas. Yang bekerja adalah kita, namun yang mendapat keuntungan adalah pemilik data dan pengelola sistem. Mesin hanya media, tapi kita dibujuk untuk percaya bahwa ia adalah guru kita.
Masalah ini bukan hanya soal kecanggihan teknologi. Ini tentang relasi kuasa. Ketika sistem AI menilai kita, memberi rekomendasi, bahkan mengatur rutinitas harian, maka kita telah menyerahkan otonomi manusia kepada logika teknokratis. Padahal, logika ini tidak lahir dari nilai, tapi dari perhitungan efisiensi dan pola yang tidak mempertimbangkan moral.
Bahaya terbesarnya bukan pada kemampuan AI, tapi pada kepasrahan manusia. Saat kita berhenti kritis, ketika manusia tak lagi menjadi subjek dalam proses berpikir, maka AI menjadi tiran diam-diam. Ia tidak menindas dengan senjata, tapi dengan kenyamanan dan kecepatan.
Solusinya bukan menolak teknologi, tapi membangun kesadaran kritis. Pendidikan digital harus mengajarkan bukan hanya cara menggunakan AI, tapi juga memahami struktur kekuasaan di baliknya. Regulasi yang mengatur etika dan transparansi sistem algoritma perlu ditegakkan, agar manusia tetap memiliki posisi sebagai pengambil keputusan utama.
Demokratisasi teknologi penting untuk mencegah monopoli data. Masyarakat harus diberi akses dan pemahaman atas bagaimana sistem bekerja. Platform harus bertanggung jawab atas dampak sosialnya. Kedaulatan digital tak boleh jatuh ke tangan korporasi semata.
AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan penguasa.

