Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) terus mengguncang dunia kerja. Dari kendaraan otonom yang menggeser peran sopir hingga algoritma medis yang mulai menggantikan dokter dalam diagnosis penyakit, AI menciptakan perubahan mendasar dalam cara manusia bekerja.
Namun, apakah AI sekadar alat yang membantu manusia, atau justru ancaman yang akan menghilangkan peran mereka secara permanen?
Dalam beberapa kasus, AI menggantikan pekerjaan manusia secara langsung dan cepat. Contohnya, kehadiran mobil otonom yang mampu mengurangi kecelakaan fatal hingga sepertiga berdasarkan data Journal of Safety Research (2020).
Perkembangan ini membuat banyak pengemudi kendaraan pribadi kehilangan pekerjaan, meskipun sebagian masih bisa beradaptasi dengan pindah ke sektor lain, seperti pengemudi kendaraan berat atau alat berat.
Perubahan serupa juga terjadi di industri kreatif. Pada 2023, sekitar 11.500 anggota Writers Guild of America (WGA) menggelar pemogokan sebagai bentuk protes terhadap penggunaan AI dalam pembuatan skenario film dan televisi.
Para penulis menolak skenario yang dihasilkan AI, meskipun beberapa akhirnya beradaptasi dengan menulis dalam bentuk lain, seperti buku atau materi pendidikan.
Namun, tidak semua perubahan terjadi secara langsung. Di sektor medis, AI mulai menggantikan peran dokter dalam mendiagnosis penyakit secara bertahap.
Menurut studi yang dilakukan oleh Saeed Alizadeh, Ghazal Vakilzadeh, dan Fazel Moghadas Hosseinzadeh (2024), AI menawarkan tingkat akurasi yang lebih tinggi dibandingkan diagnosis manusia, berkat kemampuannya dalam mengolah data dalam jumlah besar. Dalam skenario ini, dokter masih memiliki peran, tetapi semakin terbatas pada pengambilan keputusan berdasarkan rekomendasi AI.
“AI memang meningkatkan efisiensi, tetapi kita harus mempertimbangkan dampaknya pada profesi tertentu. Jika AI mengambil alih sebagian besar pekerjaan manusia, kita harus mencari solusi agar masyarakat tetap memiliki peran dalam dunia kerja,” kata Dr. Rina Santoso, seorang pakar teknologi dari Universitas Indonesia.
Relasi antara manusia dan pekerjaannya tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga identitas dan eksistensi. Seperti yang dijelaskan oleh James Suzman dalam bukunya Work: A History of How We Spend Our Time (2020), pekerjaan memberikan makna dan status sosial bagi manusia. Kehilangan pekerjaan akibat AI bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga psikologis dan sosial.
Dilema ini semakin kompleks dengan munculnya pekerjaan berbasis AI dan internet. Model kerja jarak jauh serta kolaborasi global menjadi tren baru, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa AI pada akhirnya akan mengambil alih sebagian besar tugas manusia. Fenomena ini menimbulkan kecemasan eksistensial: jika AI menggantikan manusia, apa yang tersisa bagi mereka?
Meskipun Karl Marx pernah mengkritik kapitalisme karena mengalienasi manusia dari pekerjaannya, kenyataannya pekerjaan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Bahkan dalam pekerjaan yang dianggap tidak bermakna (bullshit jobs), manusia tetap menemukan identitas dan tujuan. Dengan AI yang semakin dominan, tantangan terbesar di masa depan bukan hanya menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga memastikan bahwa manusia tetap memiliki peran yang bermakna dalam dunia yang semakin didominasi oleh mesin.

