Kabid Produksi Tanaman Pangan DPTPH Kaltim Diah Adiati Yahya menekankan, ketersediaan air adalah inti dari pertanian yang sukses.
“Kami membutuhkan sistem irigasi yang dapat mengalirkan air dari sumber-sumber seperti sungai atau bendungan ke lahan pertanian,” ujarnya, Selasa (9/7/2024).
Menurut Diah, irigasi yang efektif tidak hanya mengandalkan air hujan. Tetapi juga memastikan adanya saluran yang dapat menampung dan mengalirkan air jika terjadi kelebihan.
Di Kalimantan Timur, sekitar 85 persen sistem pengairan pertanian masih bergantung pada irigasi tadah hujan, yang menjadi tantangan tersendiri saat musim kemarau tiba.
“Kami berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (PUPR-PERA) Kaltim di bidang sumber daya air untuk infrastruktur bendungan yang dapat menampung air hujan. Saat diperlukan, air bendungan digunakan untuk mengairi sawah,” jelas Diah.
Provinsi Kalimantan Timur memiliki beberapa bendungan penting. Seperti Bendungan Marangkayu di Kutai Kartanegara, Bendungan Labanan di Berau dan Bendungan Samboja di Kutai Kartanegara.
Selain itu, Pemprov Kaltim juga mengupayakan percepatan pembangunan Bendungan Gerak Sungai Talake yang dapat membantu irigasi sawah di Penajam Paser Utara dan Paser.
Untuk mengatasi jarak antara sumber air dan lahan pertanian yang sering kali cukup jauh, serta perbedaan ketinggian antara sawah dan bendungan, DPTPH Kaltim mengoptimalkan penggunaan pompa untuk mengangkat air. Pembangunan sumur bor juga dilakukan sebagai solusi alternatif pengairan sawah.
Koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Balai Wilayah Sungai (BWS) dan Dinas PUPR-PERA Kaltim, sangat penting dalam menghadapi perubahan iklim yang tidak menentu dan dampaknya terhadap musim tanam.
“Kami mengarahkan para petani melakukan percepatan tanam. Agar tanaman sudah berproduksi ketika musim kemarau tiba,” ucap Diah.
DPTPH Kaltim juga memantau kondisi bendungan dan saluran irigasi yang sering mengalami pendangkalan dan terputusnya sambungan antara saluran primer dan tersier. Hal ini menjadi fokus perbaikan untuk memastikan air dapat sampai ke lahan pertanian.
Selain itu, penting untuk menjaga sumber air dan mengatasi hilangnya hutan yang berpengaruh terhadap daya serap tanah.
“Kami terus berupaya menjaga sumber air dan memastikan bahwa infrastruktur irigasi kita dapat mendukung petani. Terutama saat musim kemarau,” tegas Diah.
Dengan upaya tersebut, DPTPH Kaltim berharap dapat meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah tersebut. Sekaligus mengatasi tantangan yang timbul dari perubahan iklim dan ketersediaan air.

